Ya AllahToday upon a bus,I saw a girl with golden hairand wished I was as fair.When suddenly she rose to leave,I saw her hobble down the aisle.She had one leg and wore a crutch.But as she passed, a smile.Ya Allah, forgive me when I whine.I have 2 legs, the world is mine.I stopped to buy some candy.The lad who sold it had such charm.I talked to him, he seemed so glad.If I were late, it'd do no harm.And as I left, he said to me,"I thank you, you've been so kind.It's nice to talk with folks like you.You see," he said, "I'm blind."Ya Allah, forgive me when I whine.I have 2 eyes, the world is mine.Later while walking down the street,I saw a child with eyes of blue.He stood and watched the others play.He did not know what to do.I stopped a moment and then I said,"Why don't you join the others, dear?"He looked ahead without a word.And then I knew, he couldn't hear.Ya Allah, forgive me when I whine.I have 2 ears, the world is mine.With feet to take me where I'd go.With eyes to see the sunset's glow.With ears to hear what I'd know.Ya Allah, forgive me when I whine.I've been blessed indeed, the word is mine.
Bila Hati Berbicara..Tangan Melagukan Rentak Seiring..Melahirkan Irama Yang Mewarnai Hidup Ini..
Dah Baca Belum? Panas Lagi Ni!
My Life's Journey
Thursday, July 29, 2010
Bersyukurlah..
Wednesday, July 28, 2010
JANGAN JADI DIRI SENDIRI?!
Saya yakin bahwa Anda sering mendengar nasihat: “Jadilah dirimu sendiri”.
Entah bagaimana Anda menyikapinya, kerana bagi saya, itu bererti hidup apa adanya. Menjadi diri sendiri sesuai dengan keadaan, kondisi, sarana, mental dan spiritual seadanya. Dengan kata lain hidup tidak perlu macam-macam. Jadilah orang biasa saja seperti apa adanya kamu sekarang. Bukankah seperti itu pemahamannya?
Atau mungkin juga yang dimaksud pesan tersebut adalah: Menjadi diri sendiri, sesuai dengan karakter serta jiwa yang sudah ada pada diri masing-masing individu. Namun jika memang seperti itu, siapa yang dapat menunjukkan tentang karakter Anda? Siapa yang dapat memberitahu jalan hidup Anda? Siapa yang dapat memperlihatkan masa depan Anda kelak? Bagaimana awal langkah untuk bisa menjadi diri sendiri?
Bertahun-tahun sudah saya jalani untuk menjadi diri sendiri, namun apa yang saya peroleh hanya keraguan, kebimbangan; akan jadi apa saya 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang? Mungkin Anda juga termasuk dalam golongan orang-orang yang “belum menjadi diri sendiri”. Kita terbiasa mengerjakan apa yang biasa kita kerjakan, maka kita juga mendapatkan apa yang biasa kita dapatkan. Untuk itu, Lakukan hal yang luar biasa (seperti judul buku karangan Eni Kusuma: “Anda Luar Biasa”), maka Anda akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa pula.
Kerana manusia hidup, bukan sebagaimana adanya, melainkan bagaimana seharusnya.
Jangan jadi diri sendiri, Jadilah Peniru!
Hal yang menjadi dasar manusia dalam belajar adalah “sifat peniru”. Tuhan memberikan cahaya melalui matahari, manusia menirunya dengan membuat lampu. Tuhan buat hutan, manusia membuat taman. Tuhan tegakkan gunung-gunung sebagai tempat tinggal flora dan fauna, manusia ciptakan gedung-gedung. Tuhan ciptakan lapisan luar dari buah-buahan seperti: pisang, semangka, jeruk, kelapa; sebagai pembungkus yang sangat berkualiti, maka manusia ciptakan plastik. Tuhan ciptakan burung, manusia ciptakan pesawat. Sistem sonar pada ikan lumba-lumba ditiru manusia. Pelukis meniru dari apa yang dilihatnya, dan masih banyak lagi contoh yang membuktikan bahawa kita belajar dengan meniru.
Meniru bukanlah merompak. Jika Anda mengambil tulisan orang lain dan mengakuinya sebagai buah karya Anda (Plagiat), itu merompak; bukan meniru! Jika Anda mengambil idea orang lain, lalu membuatnya sama persis, itu mencuri! Anda bisa saja mengambil mutiara dari kerang, lalu menunjukkan pada orang-orang yang tinggal di gunung, di mana mereka tidak pernah tahu tentang laut, kemudian Anda menyatakan bahawa mutiara itu Anda buat sendiri. Mungkin mereka percaya. Tapi sampai kapan? Anda tidak bisa memproduksi mobil memakai nama Anda, dengan meniru desain dari Toyota misalnya, kerana orang akan tahu; produk Anda tidak akan laku dan itu menciplak, bukan meniru! Meniru adalah kegiatan mencontoh dari apa yang kita lihat, rasakan dan pelajari, untuk kemudian diperbaharui. Seiring waktu proses belajar yang Anda jalani, maka akan timbul dan lambat laun tercetak jelas warna dari karakter Anda sendiri.
Sebagai contoh: Sebagai penulis baru, Anda menulis dengan meniru gaya penulisan, teknik penulisan, format penulisan, bahkan mungkin di tahap awal Anda juga meniru pola pemikiran penulis idola Anda; bukan menciplak atau merompak! Sejalan dengan proses belajar menulis tersebut, Anda akan menemukan jiwa yang cocok dalam teknik menulis, akan Anda temukan nyawa tulisan Anda, dan akan Anda sedari bahawa ternyata Anda berbeza! Anda luar biasa!
Meniru “Sang Idola”, menggenggam kejayaan
Saat ini banyak orang yang masih belum tahu, bila cita-citanya terwujud. Banyak yang belum bisa dan bingung mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk meraih tujuannya; lebih parah lagi masih ada orang yang belum tahu hendak jadi apa, apa cita-citanya, gelap dengan tujuan hidupnya.
Salah satu hal paling mudah untuk menentukan cita-cita atau tujuan hidupn di masa depan, adalah kesukaan atau kegemaran (hoby). Jika Anda menyukai berdagang, jadilah pedagang yang sukses. Jika kegemaran Anda berminat dengan komputer, jadilah ahli di bidangnya. Jika Anda merasa damai dengan melukis, mendesain; jadilah Pelukis atau desainer. Dan jika Anda bangga menulis kerana yakin tulisan Anda akan membantu banyak orang, idea Anda dapat dimanifestasikan orang lain meski di suatu saat, dan Anda masih tetap “hidup” meski telah tiada, maka jadilah penulis. Jadilah apa saja yang sesuai dengan kegemaran Anda. Kerana orang yang melakukan kegemarannya sekaligus sebagai profesion pekerjaannya, dia akan jauh lebih berhasil dibandingkan orang yang melakukan kerja kerana terpaksa.
Langkah selanjutnya Anda cukup mencari idola, siapa yang Anda kagumi. Kemudian pelajari hal-hal yang membuat idola Anda tersebut bisa sukses, lalu tirulah! Tiru saja apa-apa yang menjadi langkah keberhasilannya, tiru semangatnya, tiru mental berfikirnya. Jangan buang percuma energy mental Anda untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan tujuan Anda.
Anda akan menemukan bahawa apa-apa yang Anda tiru dan berhasil untuk sang idola, ternyata dapat lebih berhasil lagi dengan sentuhan peribadi. Kerana kita semua tahu, bahawa apa yang baik dan berhasil dilakukan orang lain, belum tentu sukses untuk diri Anda. Di sini Anda akan temukan kekurangan ataupun kelebihan dari formula idola Anda. Anda cukup menambahkan, mengurangi atau mengganti idola dengan idola lain yang sama bidangnya.
Keuntungan lain dari meniru sang idola adalah waktu. Waktu yang ditempuh oleh idola Anda untuk sukses, bisa jadi sebagai waktu yang panjang, kesabaran, juga jerih payah yang berlanjutan, hingga ia dapat menemukan cara yang tepat atau teknik yang langsung ke sasaran. Sedangkan dengan meniru, Anda sudah tahu ilmunya, dapat membaca langkahnya dan cukup menambahkan atau mengurangi dari apa-apa yang tinggal kita ikuti, kita tiru. Selanjutnya, perkembangan karakter yang menunjukkan bahawa Anda beza, Anda luar biasa; tidak menjadi fikiran maupun halangan, kerana itu terjadi dengan sendirinya selama proses Anda belajar dengan meniru. Bahkan mungkin tanpa sedar Anda sudah menjadi diri sendiri yang berbeza dengan sang idola.
Jadi bagaimana? Cukupkah menjadi diri sendiri? Itu ertinya Anda terima keadaan sekarang, terima kenyataan bahawa setelah lahir, besar, sekolah, kerja, menikah kemudian punya anak dan.. mati! Atau jangan menjadi diri sendiri? Dengan meniru idola, mengikuti langkah-langkahnya dengan menjadikan idola Anda sebagai guru sekaligus rival. Anda menjadi seorang pembelajar, dengan menjadikan orang yang Anda kagumi, sebagai kelinci percubaan Anda yang telah berhasil menjalani eksperimen, atau percubaan-percubaan dalam mencari tujuan hidup.
Tidak perlu takut dengan fikiran bahawa Anda akan menjadi sama dengan idola Anda. Kerana Tuhan menciptakan masing-masing individu berbeza satu dengan lainnya, bahkan jika Anda ternyata saudara kembar dari idola Anda, maka Anda tetap Individu yang berbeza.
Jadilah peniru untuk menjadi diri sendiri, bukan langsung menjadi diri sendiri!
Hasil tulisan :
Fauzul Na'im Ishak
Terapi minda?

Sebenarnya banyak teknik dan kaedah serta teori tentang terapi minda ni..Mengikut sepanjang pembacaan ku..Dari laman2 sesawang pakar motivasi barat mahupun dari alim ulama kita sendiri..Banyak yang bersesuaian dan boleh diterima pakai..Contohnya bunyi2an alam atau lagu2 tertentu boleh digunakan untuk mengatasi tekanan..Ada dinyatakan bahawa bunyi air terjun boleh menenangkan hati dan minda yang tengah bersedih atau penawar paling mujarab untuk mengurangkan penderitaan kanser..Jadi disarankan di dalam rumah pesakit kanser mempunyai kolam atau air terjun kecil yg mengalir atau akuarium ikan, ini sangat membantu pesakit untuk sembuh cepat..Dan mcm2 lagi teori yang sememangnya berjaya diamalkan di barat dan diamalkan juga oleh masyarakat kita yang prihatin kepada kesihatan diri..
Namun, penawar paling mujarab untuk kita yg bergelar muslim adalah Al-Quran..Irama yang kita alunkan ataupun alunan lagu bacaan Al-Quran yang mengasyikkan itu juga merupakan terapi terbak utk minda dan jiwa kita..Yang dapat membuat hati kita tenang setenang2nya..
Taknak baca sendiri dan hayati maksud kalam Allah itu, pasangkan sahaja bacaan dari CD atau kaset dr Imam2 dan Qari2 yang banyak di pasaran..Tukarkan irama lagu dr radio tempatan kepada bacaan Al-Quran sewaktu memandu balik dr kerja..Pasti hati anda akan tenang..Letih anda akan hilang..Benar..Cubalah..lima belas minit ke setengah jam shj..InsyaAllah ada perubahannya..
Di bawah ni ku kongsikan sedikit ilmu yang sangat berguna..Yang ku rasa perlu ku kongsikan dan sampaikan..Agar sama2 dapat manfaat..Tak banyak, sedikit pun cukuplah sebagai santapan minda..Takdelah berkarat minda kita sbb lama tak membaca..=)
------------------------------------------------------------
Solat, zikir, al-Quran terapi tekanan perasaan
Oleh Khairunneezam Mohd Noor
DUNIA pekerjaan memang memberi pengaruh yang cukup terkesan dalam kehidupan. Apa tidaknya, satu pertiga daripada kehidupan seharian diluangkan di tempat kerja. Tekanan kerja jika bijak dikawal akan meningkatkan produktiviti kerja dan motivasi, tetapi jika sebaliknya akan memberi impak negatif kepada diri sendiri.
Tekanan disebabkan pekerjaan adalah interaksi kompleks antara persekitaran tempat kerja, personaliti dan reaksi tubuh badan serta mental seseorang. Persekitaran pekerjaan memberikan desakan serta tekanan tertentu yang merangsang tindak balas individu secara mental dan fizikal.
Tugas terlalu banyak, hubungan dengan rakan sekerja yang tidak baik, ketua suka marah dan suasana kerja tidak selesa adalah contoh persekitaran kerja yang memberi tekanan negatif. Tekanan itu seterusnya memberi impak terhadap kesihatan psikologi dan fisiologi seseorang individu jika tidak ditadbir atau tidak dikawal dengan metodologi tepat.
Banyak implikasi negatif berlaku apabila seseorang tidak dapat mengawal tekanan kerjanya. Panas baran, murung, gelisah, kelesuan, sentiasa rasa bersalah, ketakutan dan hilang tumpuan adalah antara kesannya.
Kadang kala ada di kalangan kita yang mencari jalan singkat dan salah dalam mengatasi tekanan seperti ponteng kerja, melakukan masalah disiplin di tempat kerja, merokok atau perkara dilarang. Berlaku juga kes di mana individu yang tertekan di tempat kerja melepaskan tekanan di rumah dengan mendera anak atau ke tahap melampau sehingga mahu membunuh diri.
Sebagai seorang Muslim, kita perlu sedar bahawa kaedah terbaik menangani tekanan kerja sebegini adalah dengan berpegang erat kepada ajaran dan syariat Islam. Islam menganjurkan mereka yang menghadapi tekanan dan kesusahan perlulah bersabar, tenang, sentiasa rasional dan yakin dengan ketentuan Allah.
Allah memberikan panduan terbaik dalam menangani tekanan melalui firman-Nya yang bermaksud:
“Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan daripada harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang yang sabar (iaitu) orang yang apabila mereka ditimpa sesuatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.” (Surah al-Baqarah, ayat 155-156)
Seperti ketentuan Allah, setiap apa yang ada di dunia ini berpasangan, seperti mana siang dan malam atau lelaki dan perempuan, begitu jugalah kesenangan dan kesukaran atau rahmat dan dugaan.
Kita harus menerima hakikat kehidupan manusia akan selalu diuji oleh Allah. Kita perlu meletakkan keyakinan bahawa ujian seperti tekanan kerja sebegini adalah bertujuan untuk memantapkan keimanan, ketakwaan, kesyukuran dan rasa cinta kita kepada-Nya.
Banyak kaedah menghadapi tekanan kerja berlandaskan ajaran Islam yang cukup berkesan untuk diamalkan :
- Pertamanya, menjaga solat fardu lima waktu dan memperbanyakkan solat sunat. Banyak kajian pakar psikologi Barat sendiri yang memperakukan fadilat solat dalam memberi ketenangan jiwa dan pemikiran seseorang.
Menurut kesimpulan beberapa kajian sarjana barat, secara saintifiknya solat adalah suatu tempoh masa ‘aman dan damai’ di mana seluruh tubuh dan minda seseorang tertumpu kepada sesuatu (kepada Allah).
Gerakan dan keadaan minda dalam solat berupaya menghalang pengaliran keluar hormon seperti Cortisol, Epinephrine dan Norepinephrine daripada kelenjar adrenalin yang bertindak balas terhadap sebarang tekanan. Solat turut membantu memberi kesan positif terhadap sistem pernafasan, aliran oksigen dalam badan, degupan jantung dan gelombang otak.
Daripada konteks Islam, mendirikan solat fardu lima waktu, dilengkapkan dengan amalan solat sunat yang pelbagai, seseorang itu akan diberikan pertolongan oleh Allah dalam sebarang kesukaran.
Allah berfirman yang bermaksud:
“Wahai sekalian orang yang beriman! Mintalah pertolongan dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang yang sabar.” (Surah al-Baqarah, ayat 153)
- Keduanya, dengan amalan berzikir seperti bertakbir, bertahmid dan bertasbih adalah amalan yang mampu menenangkan jiwa seperti jaminan Allah dalam firman-Nya yang bermaksud:
“(Iaitu) orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah.” (Surah ar-Ra’d, ayat 28)
- Ketiga, mengamalkan mendengar, membaca dan menghayati tafsir al-Quran. Diriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
“Al-Quran adalah penawar kepada kesakitan minda.” (Hadis riwayat Bukhari)
Membaca al-Quran sendiri memberikan ketenangan kepada pembaca malah kepada sesiapa yang mendengar bacaannya apatah lagi jika ayat Allah itu difahami, dihayati dan dijadikan panduan dalam kehidupan kerana al-Quran dan hadis adalah sumber teragung merungkaikan segala permasalahan.
- Keempatnya, meletakkan keyakinan bahawa kehidupan dunia ini adalah sementara dan akhirat jugalah tempat yang kekal selamanya. Dengan cara ini, jiwa akan terasuh untuk menyedari bahawa apa saja yang berlaku di dunia ini baik yang positif ataupun negatif sekadar warna kehidupan dunia yang tidak kekal lama dan akan mendapat balasan setimpal di akhirat kelak.
Tekanan yang dihadapi di tempat kerja akan menjadi sesuatu yang terlalu kerdil jika dibandingkan dengan apa yang akan dihadapi di Padang Mahsyar kelak. Diri kita akan sentiasa takutkan azab api neraka dan berusaha mencari keredaan-Nya dan dimasukkan ke dalam syurga.
- Kelima, dengan amalan berdoa, memohon keampunan dan menyerahkan segala apa yang sudah diusahakan bagi mengatasi tekanan diri untuk ketentuan-Nya. Allah berfirman yang bermaksud:
“Berdoalah kamu kepada-Ku nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepada-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.” (Surah al-Ghaafir, ayat 60)
Tuesday, July 27, 2010
Kadang-kadang..
Kadang-kadang..Hidup sukar dimengertikanSeribu satu babakYang menjadi lakonanSeribu satu watakYang menjadi pendokongPelengkap jalan ceritaAda suka..ada dukaSilih bergantiBertukar tanpa jemuMewarnai kalbuAda pedih..ada perihBertamu di birai hatiMengental sanubariKadang-kadang..Hidup tidak terjangkaMenerjah ke sisiTanpa petandaMenjelma di hariTanpa beritaNamun..Hanya DIA punya jawapanAtas segala suratanAtas segala peraturanAtas segala suruhanAtas segala kepedihanAtas segala kesedihanAtas segala kebuntuanKita..hanya perlu usahahanya perlu sabarhanya perlu patuhhanya perlu kuathanya perlu melengkapkanCerita hidup kitaAgar pengakhirannyaHusnul KhatimahPengakhiran baikDiraikan kejayaanDi taman syurgaNya
Layan saja..
Ease Your Mind...
Stress?..Apa kata Islam..
Terdapat beberapa tip yang boleh diamalkan bertujuan bagi mengurangkan tekanan kerja:-
Biasakan diri berada dalam keadaan berwuduk
Jiwa kita akan menjadi tenang jika membiasakan diri mengambil wuduk sebelum melakukan pekerjaan. Kerja yang susah akan menjadi senang dan mudah diselesaikan. Para pelajar misalnya, disarankan agar membiasakan diri mengambil wuduk sebelum mengulang kaji pelajaran agar apa yang dibaca akan mudah dingati.
Ganjaran yang besar akan diberikan Allah bagi sesiapa yang membaca Al-Quran walaupun satu ayat. Waktu yang sesuai bagi kita untuk membaca Al-Quran ialah selepas solat lima waktu dan waktu-waktu lain seperti ketika berehat dan sebelum tidur. Oleh itu, jadikanlah Al-Quran sebagai teman paling akrab pada sepanjang waktu.
Sebagai makhluk paling mulia di sisi Allah, kita disuruh membanyakkan amal ibadat kita sehari-hari. Antaranya, dengan mendirikan solat sunat. Solat sunat hajat, solat sunat taubat, solat sunat tasbih adalah antara pelbagai solat sunat yang terdapat dalam Islam. Kita bangun pada sepertiga malam dan mendirikan solat-solat sunat tersebut agar beroleh ketenangan dan kekuatan daripada Allah.
Allah telah berpesan iaitu jangan menyembah selain daripada-Nya. Ini bererti kita disuruh berdoa hanya kepada Allah yang Maha Esa dan dilakukan secara berterusan. Waktu-waktu mustajab berdoa adalah pada malam Jumaat, tengah malam, pagi sebelum waktu Subuh, malam hari raya, ketika waktu azan dan iqamah. Insya-Allah, Allah akan memakbulkan doa setiap hamba-Nya yang benar-benar ikhlas. Namun, kita perlulah sedar bahawa sebarang rezeki tidak akan datang bergolek sekiranya tanpa usaha yang bersungguh-sungguh.Maka kita perlulah berusaha supaya mencapai sesuatu di samping berdoa hanya kepada Allah yang Esa.
Kita sebagai manusia biasanya tidak akan terlepas daripada berhadapan dengan ujian dalam hidup. Semuanya itu adalah ujian daripada Allah bertujuan menguji keimanan kita sebagai hamba-Nya. Oleh itu, kita mestilah bersangka baik dengan Allah dan janganlah menyalahkan-Nya jika terjadi sesuatu ke atas diri kita. Kita juga mesti percaya bahawa tentu ada hikmah di sebalik kejadian itu.
Orang ramai selalu berkata bahawa badan yang cerdas akan membentuk otak yang cergas. Segala tekanan sewaktu bekerja akan dilupakan apabila kita melakukan aktiviti-aktiviti luar yang dapat menyihatkan tubuh badan seperti bersukan. Situasi akan menjadi lebih menggembirakan jika kita meluangkan masa membawa keluarga pergi beriadah. Ikatan kekeluargaan juga akan bertambah erat dan kukuh.
• Amal diet dengan disiplin yang kuat
Pengambilan makanan yang berlebihan dan tidak seimbang juga merupakan salah satu faktor tekanan sewaktu bekerja. Oleh itu, cara untuk mengurangkan tekanan adalah mengamalkan diet dengan disiplin yang kuat. Diet yang tidak terkawal akan menyebabkan kegemukan dan menimbulkan penyakit kronik yang lain seperti lemah jantung, darah tinggi, kencing manis.
Tekanan yang dihadapi sekiranya melibatkan individu yang lain dapat diredakan melalui luahan hati kita dengan menuliskan rasa ketidakpuasan hati kita itu dalam sehelai kertas. Sikap cuba menyimpan perasaan tersebut dalam hati boleh menyebabkan diri merana. "Luaran lain hati lain" ada sesetengah individu apabila mereka mengalami sesuatu tekanan, mereka seolah-olah tidak menunjukkan permasalahan mereka itu. Sebagai contoh, mereka akan sentiasa gembira bila dilihat bersama rakan-rakan tetapi dalam hatinya hanya Allah yang Maha Mengetahui. Maka dengan itulah, menangis dilihat sebagai salah satu cara kita dapat mengurangkan tekanan yang dihadapi di tempat kerja.
Kita perlu mempunyai satu sikap yang dipanggil yakin diri. Apabila kita mempunyai keyakinan diri, maka kita tidak akan mempunyai masalah untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang disuruh oleh pihak lain sewaktu bekerja. Kita yakin bahawa kita boleh melakukan kerja yang disuruh dengan mudah dan tiada sebarang masalah yang dihadapi. Apa yang penting ialah, kita mesti menghargai kebolehan diri sendiri dan memulakan hidup dengan lebih ceria.
"Cintailah diri kamu sendiri sebelum kamu mencintai diri orang lain". Jelas daripada maksud sepotong hadis ini, kita dapat memahami bahawa kita perlu mencintai diri sendiri terlebih dahulu berbanding orang lain. Diri kita yang selama ini masih pada tahap lama dalam pekerjaan perlu dipertingkatkan dengan cara yang dinyatakan di atas. Kita perlu memulakan kehidupan kita dengan ceria dan penuh dengan senyuman.
Sebagai kesimpulannya, tekanan kerja bukanlah satu bebanan yang sukar untuk diatasi. Dengan usaha yang gigih dan kesabaran yang tinggi serta jalan penyelesaian yang jitu, bebanan yang kita alami pastinya akan dapat diselesaikan dengan jayanya.
sumber: sober design
Thursday, July 22, 2010
Kebesaran Mu...
Ikhtilat..Ikhwah..Akhawat..
oleh: Cik Hijau
Ikhtilat merupakan suatu bentuk pergaulan secara bebas yang melibatkan lelaki dan perempuan yang ajnabi. Ia merupakan suatu bentuk pergaulan yang ditegah oleh Islam. Sesungguhnya mengambil mudah persoalan ikhtilat boleh membuka ruang maksiat yang berleluasa dalam masyarakat tanpa kita sedari.
Tambahan kemajuan era teknologi sekarang, ikhtilat bukan sahaja melibatkan perjumpaan antara lelaki dan perempuan yang ajnabi malah dengan kemudahan yang ada seperti Yahoo Messenger, SMS, e-mail, dan Friendster. Jarak yang jauh didekatkan, masa yang berbeza tidak menjadi masalah begitu juga dengan kos perhubungan. Budaya ini terus menjadi darah daging masyarakat kita terutama remaja-remaja.

Kadang kala perhubungan dimulakan atas dasar kerja tetapi akhirnya melarat kepada perkongsian peribadi bukan perkongsian kepakaran. Maka tenggelamlah konsep 'kerja adalah kerja, peribadi adalah peribadi'. Kononnya hendak memahami dan mewujudkan keserasian dalam bekerja. Seolah-olah kita mencari keredhaan manusia dalam kemurkaan Allah.
Apabila wujud golongan yang menegah dan menunjukkan kaedah muamalat yang selari dengan syariat Islam maka timbullah konsep SYADID. Sememangnya Islam itu mudah dan tidak membebankan tapi tidak bermakna kita layak untuk mempermudah-mudahkan syariat Islam.
Adakah salah seorang nisa' dan rijal menjaga maruah dan pergaulannya. Bercakap, berurusan, berjumpa dan berbincang atas keperluan? Adakah salah bagi seorang nisa' terutamanya menegaskan suaranya dan menjaga pandangan demi menjaga maruah dirinya.
Ada yang menimbulkan alasan malas menyusahkan rakan untuk menemankan kita. Malas nak tunggu rakan. Malas itu malas ini. Besar sangatkah malas kita berbanding arahan Allah dalam Al-Quran? Tegarkah kita melawan syariatNya.
Syariat Islam turut menyarankan kepada kita untuk menundukkan pandangan. Bukan sahaja haram melihat aurat bukan muhrim malahan bahagian-bahagian bukan aurat turut dilarang. Sabda Rasulullah SAW: "Wahai Ali janganlah pandangan (yang kedua) menuruti pandangan (yang pertama) kerana sesungguhnya pandangan pertama itu adalah bagimu sedang yang kedua tidak (berdosa)."
Kalau dah bergaul dan bercampur bebas masakan kita mampu menahan dan menjaga pandangan. Usah menegakkan benang yang sememangnya basah. Ana bukanlah nak menghukum tanpa memberikan jalan penyelesaian. Jom kita berkongsi tip-tip berurusan dengan bukan muhrim:
1. Elakkan berhubungan dengan lelaki. Kalau ada peluang untuk minta bantuan dari nisa' (bagi nisa') dan rijal (bagi rijal), mintalah tolong mereka. Lainlah benda-benda di luar kudrat kita contohnya apabila nisa' minta bantuan rijal soal baiki latop, kereta dan perkara-perkara yang tak mampu dilakukan nisa'. Silalah mempergunakan kemahiran dan kepakaran yang ada. Begitu jugalah sebaliknya bagi rijal.
2. Andai terpaksa berhubung dengan bukan muhrim gunakanlah perantaraan berbentuk tulisan seperti sms, nota kecil dan sebagainya. Ringkaskan dan padatkan ayat-ayat. Tak perlulah meletakkan ikon senyum yang sememangnya comel. Tak perlu disertakan dengan gelak ketawa seperti huhu, haha, hihi, hikhik. Seolah –olah kanak-kanak tadika mengajar mengeja. Apatah lagi benda-benda lain yang kurang berfaedah.
Andai terdesak sangat untuk bercakap melalui telefon, jagalah suara anda terutama nisa' selari dengan tuntutan Al-Quran: "Wahai isteri2 nabi, kamu bukanlah seperti perempuan-perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah lemah lembutkan suara dalam berbicara, sehingga bangkit nafsu org yang ada penyakit dlm hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan yg baik." Takkanlah nak tunggu Allah menempelak kita dengan balaNya?
3. Tundukkan hati. Sepatutnya apabila kita berurusan dengan bukan muhrim kita perlu risaukan kemurkaanNya. Banyak-banyaklah berdoa semoga urusan dipermudahkan dan bebas daripada fitnah. Minta dariNya supaya dipelihara daripada panahan syaitan.
4. Tundukan pandangan. Jangan tertipu dgn matapelajaran kaedah berkomunikasi yang kita belajar "make eye contact with the person you're talking to". Melainkan dengan kaum sejenis. Teramatlah disarankan demi membina ukhwah yang kukuh. Berwaspada dengan konsep "dari mata turun ke hati". Tak bermakna tundukan pandangan sehingga jalan terlanggar tiang.
5. Mempercepatkan urusan. Apabila ada urusan, segerakanlah kerja. Tak perlulah sampai hendak berkongsi hal peribadi, luahan hati, gelak ketawa dan sebagainya yang tidak penting. Berbincanglah di tempat yang sesuai dan segerakan urusan. Jangan lupa peneman anda.
Teringat satu mail yang ana dapat mengenai luahan rijal. Jom kita kongsi bersama. Insya Allah ada manfaatnya.

Wednesday, July 21, 2010
Lawak Hari Ini..Nghee
Kerana tak tahan sabar lagi, polis berkenaan memintas kereta berkenaan dan berjaya memberhentikannya. Apabila kereta dihampiri, didapati pemandunya ialah seorang wanita.
Polis itu bertanya, "Puan..."
Wanita itu memintas, "Nama saya Datin Markonaz..."
"OK... Datin... Datin ni memandu tak tengok cermin pandang belakang ke?"
"Kenapa? I punya make-up comot ke?"
Jurugambar perempuan?Sesuai ke?..
Photos from the heart
By OLIVIA LEE
Four female photographers share what it takes to succeed behind the lens.
ASK a room full of established photographers and most of them will probably tell you that it all began as a hobby before they pursued photography as a career. Famous women photographers like Margaret Bourke-White (leading American photojournalist and the world’s first female war correspondent), Annie Leibovitz (the world’s leading entertainment photographer, who has worked with Rolling Stone and Vanity Fair) or Anne Geddes (popular for her work with babies) have proven that women are just as capable as men in telling stories through their pictures.
StarTwo talks to four female photographers – all of whom use Canon cameras in their line of work – about why they chose to be behind the lens.
Armed to shoot: These women believe that photography is not just for the boys and that more women should venture into this field. (Clockwise from left) Norafifi Ehsan, Evelyn Lam, Shuhada Hasim and Bonnie Yap.Shuhada Hasim, 34
Shuhada is a part-time photographer with a full-time job in the procurement department of an oil and gas company. This self-taught photographer started out as a wedding photographer, and now specialises in lifestyle and portraitshots. To improve her skills, Shuhada is pursuing an executive diploma in creative photography and digital imaging at Universiti Teknologi Malaysia. She hopes to one day own a studio.
“I’ve loved photography since I was young. I found it so beautiful, that photographers were able to capture the details and emotions on the faces of their subjects, especially during weddings. That’s what got me hooked in the first place,” she says.
To get her business off the ground, Shuhada shot pictures for friends and family members for free. She published her work online and posted her pictures on her blog (shuhadahasim.wordpress.com).
She started with a basic model by Canon, the EOS 350D, and upgraded to an EOS 40D. “I’m currently using the EOS 5D Mark II. And, because I love to shoot portraits, the Mark II captures the real tone and colours. The photos looks more realistic. It works well in low light. With the Mark II, I feel more confident,” she adds.
What are the differences between a compact camera and a DSLR (digital single-lens reflex) camera?
“To be honest I’ve never had a ‘point and shoot’ camera. When I fell in love with photography, I invested in a DSLR from the start. For the price you pay (for a DSLR), you get more advantages compared with compact cameras. The beauty of the lenses and the many functions are useful for my business.”
To aspiring female photographers, Shuhada’s advice is “be original in personality and attitude”.
“By knowing who she is, she’ll be better able to define herself and brand herself. I believe potential clients will appreciate a photographer who stands out.”
Evelyn Lam, 36
Lam has been shooting wedding pictures for the past two years. Although she’s considered a “baby” in the industry, she has already made her mark. Certified a Master Photographer by the Master Photographers Association (MPA) Britain, she was recently nominated one of the Top 10 Female Wedding Photographers in Malaysia by Faces magazine.
Lam hopes to one day be a full-time photographer.
“I didn’t expect to end up as a wedding photographer. I’ve worked in various industries but didn’t get any job satisfaction. I was jumping from one industry to another, until I stumbled upon photography through an old classmate of mine,” Lam explains.
“I love capturing the intimacy and passion of the couple in pictures, purely because I want them to remember that emotional connection for many years to come.” Presently, Lam is using the EOS 5D Mark II.
“I need cameras with a quick sensor, which is important for weddings because things happen very fast,” she says.
Most pictures these days can be edited on the computer with the proper software but Lam says that some occasions need that spontaneous touch.
“For weddings, we actually need to get it right with the camera most of the time because these days, whatever happens in the morning (at the reception) will usually be shown in a slide show in the evening (during the wedding dinner). We don’t have time to edit photos so we have to get the colours and lighting right the first time. For pre-wedding photo shoots, however, we can take our time to edit.”
So, does Lam see the DSLR as a toy only for the boys?
“I see it as a tool to capture the moment, which later goes on print. I don’t see it as a gender-specific device. People shouldn’t stereotype but seeing how (photography) has always been a man’s game, it’s understandable. But there are advantages to being a female photographer as I get to tap into a niche market for women clientele who wants to capture more intimate photos,” she says.
Norafifi Ehsan, 38
Norafifi (or Fifi, as she is known among friends) has been a photographer for the press for 17 years. The mother of three had nine years working experience at the English daily (free paper) The Sun before joining The Star. She says she can’t live without the adrenaline rush she gets from her line of work.
“I wasn’t very good in my studies. I didn’t do too well academically. I know that I’m better with things hands-on. So, I pursued a diploma in photography. It was the only way I didn’t have to study too much! And I did quite well (in college)!
Fifi loves the challenges she faces in her job. And sometimes, it’s fun “to fight with the male photographers”.
“Sometimes, the guys can be kind and they give me some leeway,” she says.
When asked about the cameras she has used so far, Fifi says that she started out with an old camera, a Yashica. “They taught us with that in school. I’m now using Canon’s EOS 40D and I’m very happy with it. I love the colours it brings out in the pictures. And for work, I rely heavily on wide-angle lens. I can’t live without them.”
She advises female photographer to be patient.
“You must love your job and you need a lot of patience in this line of work. Take every day as a chance to learn something new and always give 100% to your job,” she says.
Bonnie Yap, 39
Yap still cites The Star as her training ground. The commercial photographer was with the English daily for 12 years and was the only female photographer in the media circles at the time. She covered general news, events, food and fashion.
She left the newspaper to fulfil her dream of owning her own business in 2004. Today, Yap’s photography work includes high-society events, styled food shots, weddings, interior decor and portraits.
She admits that it was tough to take that first step and leave a stable job to freelance on her own in the beginning. “It took me a while to decide to come out on my own. A lot of friends told me not to leave. The people around me said that after I leave, I will be a ‘nobody’. But I did and I’m still referred to as Bonnie Yap (who used to be) from The Star, and I’m proud to hear that.”
The best part about her work, Yap says, is meeting people.
“I love to brainstorm about various photo angles with my clients, and even though some may consider that the work of a consultant, I do it for free because I enjoy it. I also love that I’m always out and about, and that I have a variety of subjects for my work. “I’ve used the Canon EOS 1Ds Mark III, the 1D Mark III and now the 1D Mark IV.
“A good photographer should always be on the lookout for good photo angles. One should know what story angle the writer is coming from so that your photo tallies with the story. A photographer has to remember that a good photo relies on a good eye (for angles) and skill, and that the camera is just a supporting tool.”
Yap only uses editing software for some interior or exterior decor shots, and advertising photos.
“A lot of my event photos go directly to the clients.”
So, what tips does Yap have to share with aspiring photographers?
“DSLR cameras can make anyone a photographer, if you know how to use them correctly. But always remember that it is you handling the camera, and not the camera that’s handling you. Also, it’s good to enjoy your work because when you are enjoying yourself, you take photos from the heart,” she concludes.
> Canon is one of the household brands participating in FemmeCity. For more exciting developments on Canon, drop by FemmeCity (organised by Clove) at the Kuala Lumpur Convention Centre from July 30 to Aug 1. For more information, log onto www.clovetwo.com/femmecity/.
Source: The Star Online, Thursday July 1,2010
----------------------------------------------------------
Rasanya dah semakin ramai jurugambar profesional perempuan sekarang ni..Ramai wanita yang meminati bidang ni dan berani menceburi bidang ni sebagai kerjaya samada secara full-time atau part-time dan tak kurang juga yang menjadikannya sebagai hobi. Hobi ni memang tak dinafikan merupakan hobi yang mahal..Bleh mencapai puluhan ribu gak la utk menyediakan gear yg sesuai..Tetapi memang mengasyikkan bila gambar2 yg diambil tu cantik dan terbaik..lain dr yang lain..Satu cara untuk menikmati keindahan alam ciptaan Allah juga kan?Kagum melihat landscape alam yang cukup indah..Ditambah dengan editing yang sesuai..Maka superb lah gambar2 tersebut..
.Ramai rakan2 perempuan yang diriku kenal yang memang hebat tho bukan profesional lagi..One day, pasti mereka juga akan berdiri sebaris dengan fotografer2 lelaki terkenal masa kini..Bukan sesuatu yang mustahil..InsyaAllah..